• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

Marxent


Kali ini berkesempatan hadir dengan kompilasi desain interior yang dapat memikat hati anda semua. Langsung saja, saya akan tampilkan beberapa desain interior:


























© Copyright 2015 Marxent Personal Blog.
All rights reserved.
Written by Muhammad Iqbaludin
Butuh Komitmen
Seminggu sudah jadwal padat dan kejar tayang terlewatkan, dari sibuk dengan kegiatan meeting, hingga pertemuan-pertemuan guna menyelaraskan keinginan. Cindy tak pernah lepas dari pandangan laki-laki yang dari tadi menatapnya dengan seribu satu khayalan, ia sedang asyik menerangkan metode dan disain minimalis megah untuk hotel tersebut. Mata Frans mengawang-awang entah ke mana.
“Jadi seperti ini,” memastikan lawan bicaranya mendengarkan atau tidak, ia kembali memecah pandangan kosong si bos itu, “Frans, kamu dengarin aku enggak sih?”
Kalimat tadi membuatnya sadar, ia sudah nyaman berada di lingkaran Frans, tak mau keluar. Mereka sudah melakukan pertemuan kedua puluh lima kali, lebih dari tiga bulan dari pekan perkenalannya yang lalu, ia dapat berekspresi dan bertingkah selayaknya ia. Audy yang berada di lingkaran mereka merasa tidak nyaman. Kehangatan mereka mengusik hati kecil, ingin sekali memuntahkan kecemburuan itu menyeluruh, tepat ia berhadapan dengan sahabatnya. Audy memilih diam.
“Iya, aku dengar kok,” menegakkan posisi duduknya.
Ruangan yang sama, dan orang-orang yang masih sama, sebuah basement disulap menjadi bar kopi bawah tanah, namun pemandangannya berbeda. Tingkah bosnya itu lebih pantas disebut memanjakan seorang terkasih dibanding menjalankan rekan kerja, rekaman beberapa bulan lalu yang terus memproyeksikan bagaimana Audy tertarik dengan bos seusia tiga tahun lebih tua, bagaimana perasaannya tentang membangun istana di atas awan, bagaimana ia bisa terbantu atas nasihat-nasihat ringan yang dituturnya saat keadaan spesial. Audy menyeka mata, ada sesuatu yang dimuntahkan kantung matanya. Tak ada yang sadar.
Kisah seperti inilah yang dibenci oleh kebanyakan insan di muka bumi, tragis dan menyakitkan, adakala di saat sudah menemukan yang cocok dan mudah berbaur dengan perasaan, ternyata satu itu menjadikan kita sehelai rumput di padang rumput, merasa indah namun pada dasarnya sama, jikalau rumput-rumput itu dicabut untuk dinikmati, toh, akan ada rumput lain yang sama persis dan mengundang si pemesona untuk mengambil yang baru, membuang yang lama. Cepat sekali berganti hati.
Sesekali Frans tersenyum sendiri saat melihat Cindy asyik berceloteh ini-itu di luar tugas, membicarakan hal yang personal sekalipun, seperti hobi, favorit, apa yang disenangi di rumah, siapa tokoh pujaannya dan, kriteria apa yang membuatnya begitu tergoda menjadikan seorang pujaan hati. Cindy yang cerewet tentunya mudah melantur, bertutur, dan menjawab semua itu. Setidaknya di mata Audy, ikatan sahabat antara dia dan Cindy melebar selebar-lebarnya, butuh waktu mengulur hati, butuh ketegaran untuk menarik kembali. Pikirannya meliang di satu jawaban pasti: kebahagiaan sahabat menjadi prioritas utama.
“Maaf, p-pak, eh, maksudku Frans.”
“Ada apa Dy? Kayaknya kamu kurang bersemangat hari ini?”
“Ada yang harus dikerjakan di ruanganku,” Audy bergegas kembali, keteguhan hatinya memilih berkorban asal tidak kehilangan status persahabatan yang dipupuk sejak kecil. Bunga itu harus tetap tumbuh dan berkembang.
“Sebentar ya Frans,” ekor matanya seraya mengikuti ke mana langkah sahabatnya berjalan, ikatan yang begitu kuat membuatnya begitu sensitif dengan perasaan tak enak. Audy jarang-jarang sekali seperti ini, ada masalah apa dia?
Frans mengangguk mantap, tak sadar bahwa mereka mencoba untuk saling berkompetisi demi dirinya, namun usaha Audy lebih mulia, membiarkan dirinya digerogoti rasa bersalah karena telah memupuk perasaan kepada Frans. Cindy mengejarnya.
“Audy,” meraih lengannya, Audy balik menatap. Kamu terlalu simpati Cindy.
“Kenapa Cindy? Tingkah kamu aneh banget?”
“Ada juga kamu yang kenapa?” melepaskan genggamannya.
“Aku enggak ada masalah kok, yang ada juga sibuk, tuh, berkas-berkas yang gila... tumpukannya sudah menggunung, juga...”
“Kamu bohong.” Potongnya.
Sekeras apapun usaha Audy untuk mengelak dari pandangan si sahabat sekuat itu pula hantaman yang diberikan olehnya. Tak ingin membuat gerak-gerik yang mencurigakan, seakan-akan menunjukkan kecemburuan, sekali lagi ia tak mau.
“Sini sayang, duduk dulu.” Audy menenangkan, “apa yang kiranya kamu lihat?”
Audy memasang tampang sok-tegar, agar dapat mengelabuinya, inilah salah satu cara dari sekian cara yang manjur untuk sekelas orang berintuisi tinggi. Cindy menggelengkan kepala, ia tak bisa melihatnya, persis dugaan Audy. Kini perasaannya bercabang, antara senang dan sedih, dalam hatinya seperti terbakar, bahkan sahabatnya sendiri benar-benar tidak dapat melihat penderitaan, walaupun setetes, di sisi lain ia senang dapat menentang intuisi Cindy.
“Enggak ada kan?” Membereskan bawaannya, “aku balik dulu ke ruangan.”
Seiring langkah Audy yang semakin menjauh, Cindy juga kembali ke lingkaran hangat itu, ia mencemaskan sang sahabat.
“Ada apa Cindy? Kayaknya kalian barusan bertengkar?”
“Bukan itu,” terangnya, “aku tahu ada sesuatu yang mengusiknya. Dia itu selalu begitu deh, mengumpat-umpat selagi ada masalah, padahal dia tahu kalau aku sahabatnya.” manyun kesal.
Frans yang melihat pemandangan seperti itu hanya dapat menyeringai, mulailah muncul kalimat-kalimat dengan kata sandang ‘deh’, membuat Frans benar-benar berhadapan dengan seorang anak kecil yang merengek karena tidak dibelikan permen kesukaan. Tapi Cindy terlihat, sangat manis.
“Sudahlah, tak apa kan?” melambaikan tangan, “namanya juga sahabatan, mana ada yang mulus, tapi sesuatu yang bisa dilakukan oleh kita saat ini adalah percaya.”
Cindy yang tadi memalingkan wajah, beralih memandangnya, lamat-lamat tenggelam dalam perasaan. Aku tahu, kamu pasti bisa menetralisir perasaan gundah ini, Frans.
Siapa sangka kehangatan itu akhirnya mengecam Audy di sebuah ruangan kerja yang kini terasa amat sangat pengap dari biasanya, napasnya yang tak beraturan akibat menahan tangis, di ruangannya ia bisa melepaskan segalanya. Tak dirasa juga, butiran air mata dari kantung mata Cindy spontan tumpah. Audy, kamu benar-benar enggak apa-apa?
Disela tangisan tersebut, Audy tidak pernah lupa dengan manusia cyber satu itu, seseorang di balik nama Claymore tersebut banyak memberikan kesan-kesan begitu dalam di hatinya, walau sebenarnya mereka saling tak pernah bertemu satu sama lain. Di balik nama Eve Claudya, Audy bersembunyi, dua manusia virtual itu benar-benar telah hidup empat tahun yang lalu tanpa mengenal status masing-masing.
Eve Claudya is connecting now...
“Hai Eve,” spontan memanggil. Sepertinya orang itu benar-benar menunggu.
“Hai juga, kamu apa kabar?”
“Baik, kamu sendiri?”
“Aku lagi gusar nih,” ketiknya penuh harapan.
“Kok bisa? Gusar kenapa?” Bagaimana ya. Audy memutuskan.
“Sebenarnya sepele sih, karena faktor cemburu,” menjeda ketikannya, “yah semacam triangel love gitu deh.”
“Bagaimana ya? Kalau masalahnya begitu, kamu butuh kepastian, antara mengikuti kata hati dan mengikuti keegoisan, namun dari keduanya bertolak belakang, sepertinya demikian.”
“Kata hati? Keegoisan? Maksud?”
“Kamu kenal dengan si orang ketiganya bukan?”
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Namanya cinta segi tiga itu, pasti dengan orang dekat...”
“Iya, dia sahabatku.”
“Kalau begitu kamu butuh mengikuti apa yang kamu tentukan sendiri, ikuti kata hati, minimal kamu sukses membawa perasaan itu, apalagi sahabat, jangan sampai semuanya kusut karena si ego.”
Kalimat yang barusan keluar dari layar smartphone tersebut membulatkan tekadnya. Benar. Setelah itu, ia menyeka mata yang merah dan betem akibat tangisan tadi. Hari kerjanya tidak begitu baik.
Jakarta Pusat, 2010.
Semburat merah di langit sudah menampakkan wujud, langit rupanya telah meninggalkan birunya, kini sang senja merajai. Sayup-sayup taburan bintang mulai terlihat, mobil-mobil berlomba kembali ke asal, keadaannya seperti biasa. Macet. Tapi Frans sangat menikmati keadaan macet ini dengan seorang wanita yang diam-diam diidamkannya.
“Ih macet!” Cindy langsung manyun.
Frans yang sedang kasmaran tidak begitu merespons, ia lebih suka melihat Cindy seperti ini. Ia mulai terkekeh sendiri.
“Kamu tuh ada-ada saja,” Cindy meliriknya, “namanya juga Jakarta.”
“Permisi mbak, mas...” seorang pengamen mulai memanfaatkan situasi ini demi menafkahkan diri sendiri dan orang lain, mereka merasa beruntung menjadi orang-orang yang punya dan tidak susah mencari uang dengan cara berpanas-panasan di jalanan dan bernyanyi dengan porsi ala kadarnya saja. Frans membuka kaca mobil, memberinya sedikit nafkah yang dimiliki.
“Terima kasih mas, mbak, semoga hubungannya langgeng!”
“Amin!” sontak Frans. Disusul dengan kekehan bodohnya. Cindy tahu, dirinya salah tingkah.
Ciputra Gran, Bekasi, 2010
Frans langsung menghempaskan badannya, tubuhnya terasa amat semangat dan bergairah dari pada biasanya, tanpa berpikir panjang, ia menenggelamkan diri di atas bathtub hangat, sesekali menyeringai sendiri. Waktu berlalu bersama Cindy hanya beberapa jam dan memakan banyak kenangan, bahkan sampai meyakini Cindy akan kembali mencitainya di saat ini, namun hanya saja sudah mengungkapkan. Manusia kasmaran satu itu akhirnya lebih memilih menghempaskan badan di atas sofa empuk sembari menonton berita-berita luar negeri. Diambillah ponsel itu dan menemukan nomor yang sudah tak asing lagi: Jonathan.
Jakarta, 2015
“Memang masa-masa indah itu saat proses PDKT ya,” komentar Inggrid.
“Justru saya lebih menekankan proses pendekatan itu.”
“Baik, kita break dulu!”
Mereka semua bubar jalan sementara, sebagian menetap sedang merapikan skenario yang barusan ditulis, Audy pindah ke outdoor area, alasannya mencari suasana agar tak terlalu pengap. Padahal ia tahu, novel itu mengingatkannya betapa cemburunya ia kepada seorang sahabat sendiri, sekarang, mereka masih kembali mengontak satu sama lain.
“Eh mba’ Audy, sebenarnya, saya ingin tahu maksud mba’ tentang penekanan di proses pendekatan itu.” Perlahan-lahan dan hati-hati, karena Inggris melihat Audy sepertinya tidak begitu stabil, entah apa karena masa lalunya terusik atau tidak, yang jelas, si kacamata tersebut berusaha mengangkat senyumnya.
“Karena proses pendekatan terasa amat menggebu-gebu, karena memiliki tujuan yang pasti, yaitu agar dapat berpacaran.” Pandangannya kembali mengawang, seakan mencerna kembali apa yang diutarakan, “sedangkan ketika kita sudah jadian, maka apa yang sebenarnya dicari? Kalau tujuannya untuk menikah, mungkin akan awet, tapi siapa sih yang terpikir akan hal itu?”
“Oooh,” ikut mencerna perkataan Audy, “benar mba’ saya setuju.”
“Sekarang sih setuju, tapi kesudahannya malah berbalik, apalagi sudah punya pacar,” lanjut Audy, “semua orang memiliki porsi kebutuhan yang berbeda, dalam masalah percintaan, porsi itu akan terasa sangat kecil bagi mereka, oleh karena itu mereka mencoba memperbesar porsi tersebut agar dapat apa yang mereka namakan ‘cinta sejati’, namun di lain sisi, mereka justru mengurangi porsi, sehingga jadilah pertengkaran berujung ‘putus’. Begitulah Mbak Inggris, butuh komitmen.”
Inggrid sedari tadi mengetahui maksud dari ucapan si mata empat yang tengah duduk manis menghadap ke sebuah jalanan yang sudah menyepi, mereka dalam istirahat panjang. Rasa kangen akhirnya merasuk, alat komunikasi bersejarah yang menyimpan nomor itu masih kuat membantunya, orang yang tepat untuk berbagi, orang yang tepat sebagai tempat berkeluh kesah, mengetik nomor yang dituju.
“Halo Dy?”
“Hallo too say, tumben menelepon?”  Sayup-sayup terdengar suara dari seberang sana.
“Kamu, apa kabar?”

Dilanjutkan dengan berbagai percakapan, mulai dari skala umum hingga pribadi sekalipun, guratan wajahnya merileks dan tenang, Audy kembali menceritakan masa lalu mereka, sesekali membenarkan kejadian yang keliru.

Previous Chapter
Next Chapter
3# Cluster of Marxent Serial:  Lebih Indah dari Model 4D Sekalipun
5# Cluster of Marxent Serial:  Cooming Soon
Written by Muhammad Iqbaludin
Lebih Indah dari Model 4D Sekalipun
Frankfurt Coffee Shop, Jakarta, 2010.
Sebuah amplop kuning yang ia lirik sekali lagi menyiratkan betapa keras tugas yang diemban nanti, dengan penuh penasaran membukanya perlahan. Ternyata proposal perencanaan proyek sebuah vila. Ia amati satu per satu kalimat yang tertera di dalamnya, sampai ia bosan melihat, akhirnya langsung menuju poin-poin penting, tak lama ia melihat calon nama vila tersebut. Findago Villa.
Melihat nama vila tersebut sepertinya sangat familiar, matanya menyipit dan mengumpulkan konsentrasi demi menemukan berbagai macam data di berangkas alamiahnya, sebuah peranti tanpa batas yang bisa mengubah apa pun jika dikehendakinya dalam-dalam. Benar, dia pernah mendengar seseorang, dia sahabatnya.
“Aku ada proyek lagi nih di Indonesia.”
“Wah, sudah hebat ya kamu sekarang, seorang ratu disain interior.” Menyeringai kagum.
“Tapi Dy, tetap saja aku butuh seseorang yang dapat membuatkan istana itu untukku, sampai kapan pun akan kutunggu dia.”
“Hahaha, sabar ya.”
Bayangan itu menghilang, ia kembali dari pandangan kosong. Melirik pada seberkas proposal, sekilas merasa bersyukur atas kemajuannya saat ini, sekilas juga ia ingat untuk secepatnya mengonfirmasi bos barunya atas proposal itu. Mengeluarkan telepon genggamnya dan mencari nama yang tepat. Pak Frans, semoga bisa kemari.
“Permisi Pak Frans, tentang berkas waktu itu...”
Belum selesai melengkapi, kalimatnya dipotong, “kamu di mana?”
Sayup-sayup klakson mobil terdengar di seberang sana, Audy yang ingin meledakkan ketidaksukaannya mewajarkan.
“Di Frankfurt Coffee Shop pak.”
“Kita bahas di sana saja, sampai ketemu.” Telepon dimatikan. Memang mengagumkan, tapi besar kepalanya itu yang membuatku muak.
Tak lama, orang itu datang bersimbah ketergesa-gesaan, seakan ia perlu momen sekecil ini, tapi tidak tahu apa arti sebenarnya, yang sedari tadi duduk manis menikmati secangkir Mochachino yang jelas tidak habis-habis, mata orang itu melayang jauh di dalam negeri impian, ia terus mengaduk-aduk Mochachino yang sudah dingin beberapa menit lalu. Hingga orang itu datang.
“Melamun melulu nih?”
Tersentak kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba, “Ah, enggak.”
“Mas, Capuchinonya 2 ya,” seorang barista ramah mengacungkan dua jarinya, bertanda ia menerima, “dua Capuchino!” teriak barista tadi.
“Banyak amat pesannya?” Iseng bertanya, Audy memerhatikan.
Lama ia menggaruk-garuk kepalanya, sesekali menguap sambil menyembunyikan mulut di balik tangan, tiba-tiba menyeringai, “maaf, aku sedikit letih, kenapa tadi?”
Pertanyaanku pun tidak dijawabnya, “Oh iya, ini tentang berkas proposal itu.”
Audy menyerahkan tumpukan kertas kepada manusia kejar tayang itu, penampilannya kini sedang memburuk, rambutnya acak-acak disisirnya pakai jemari, dasi miring yang tak disadari, bosnya dalam masalah. “Kenapa pak?”
“Ah, tidak ada, hanya saja aku terlalu memusingkan masalah kantor.”
“Hebat, sampai kapan bakal tahan dengan hal itu?”
Tersenyum renyah, “entahlah,” kemudian mengernyitkan dahi, “mungkin sampai aku bisa punya seorang yang dapat mengisi kesibukanku di dapur.”
Audy paham, tak melanjutkan. Aura profesionalnya tiba, mereka menyampingkan percakapan barusan untuk lebih terfokus dengan pembahasan proposal.
“Jadi, ada seorang lagi?”
“Iya, dia dikontrak langsung oleh pihak rekan.” Terang Audy.
Proyek saat ini adalah sebuah vila bintang tiga yang tidak terlalu menguras banyak ide, namun sebagai lembaga profesional sangat minim pemikiran akan hal tersebut, justru mereka mengusahakan bagaimana vila-vila tersebut dapat memuaskan klien dan penghuni di dalamnya juga memberikan keuntungan ‘nama baik dan reputasi’.
Tidak biasanya sebuah proposal seperti ini tidak menunjukkan lampiran kriteria si desainer independen itu, namun melihat dari portofolionya, membuka mata Frans bahwa orang ini benar-benar klop.
Ancol, 2010.
Matanya masih menempel pada layar monitor, gambar-gambar 3D yang berputar-putar di sana mencoba untuk menyesuaikan ruang dan dimensi, sebuah perencanaan yang ia setujui beberapa bulan lalu membuatnya benar-benar amazing. Di ruang senyap dilengkapi dengan air conditioner, tidak terlalu sempit, namun leluasa untuk melakukan pekerjaan di dalamnya, ruang minimalis modern dengan gaya kesukaannya: Victoria. Warna soft menggugah hati, perpaduan antara cream dan putih, tata letak rak buku sekaligus memberdayakannya sebagai objek latar belakang, pajangan-pajangan berbentuk lukisan abstrak, menyesuaikan dengan wallpaper ruangan. Masih menatap matang-matang guratan 3D di layarnya. Mencari detil yang merusak eye-catching disain.
Ponsel yang beberapa menit lalu berdering, kini kembali berdering. Cindy melihat sekedarnya pada layar ponsel: Audy.
“Hai Dy?”
“Hai juga say...”
“Eh, yang waktu itu, proyek vila apa?”
“Findago Vila,” Cindy menjelaskan.
“Wah, kita satu rekan dong?”
“Memang kamu kerja di Frans Archy?”
“Iya,” disusul dengan perbincangan Audy tentang bagaimana ia dapat diangkat sebagai sekretaris utama dalam perusahaannya. “Memang deh, sahabatku satu ini cerdas banget,” kalimat responsif yang membuat Audy begitu bahagia, angin bernama realita menyadarkannya dari bayangan yang menerbangkan jauh diri Audy, ia kembali, tidak terlalu bangga.
Mereka berdua adalah rekan masa kecil, orang tuanya adalah sahabat karib semenjak mereka berusia remaja hingga saat ini, begitu tuturnya. Rumah Audy sejak SD sangat dekat bahkan menempel, dan uniknya lagi, berada dalam satu halaman belakang. Audy dan Cindy kecil selalu bermain bersama tepat di halaman belakang rumahnya, karakter yang berbeda membuatnya saling melengkapi, Audy yang pendiam dan jarang berbicara selalu diajak berkomentar macam-macam oleh Cindy yang cerewet guna sahabatnya itu dapat berbicara walaupun apatah dua patah kata, dan Cindy yang malas sekali mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahan, selalu diajak belajar bersama oleh Audy, begitulah kehidupan mereka sejak kecil.
Setelah SMP, kedua keluarga itu berpisah, orang tua Cindy memiliki banyak cabang perusahaan di dunia, dan orang tua Audy dinas keluar kota, akhirnya mereka berpisah. Dalam kurun waktu yang lumayan membuat rindu, selama 4 tahun tidak bertemu, maka Audy orang pertama yang berkunjung menemui teman sepermainannya. Dengan berbagai macam perubahan-perubahan, mereka dipertemukan kembali dalam satu proyek kerja.
Frans Archy Corporation, 2010.
“Datanya sudah selesai pak, tinggal tahap konfirmasi dari pihak ketiga.”
“Ya, silakan taruh di atas meja saya,” menunjuk sebuah meja terletak di pojok ruangan, Frans menuju ruangan favorit, di mana dijadikan sebuah bar kopi mini dalam gedung, letaknya di ground floor, ruangan itu terlihat dari tempat parkir bawah tanah. Ruangan serba keemasan tersebut sangat berbeda dari penampilan umum gedung di atasnya. Frans memesan kopi hitamnya sebagai teman peristirahatan.
Berbeda dengan wanita berkacamata yang selalu sibuk mengurusi ini-itu mengenai berkas-berkas perusahaan dan beberapa laporan statistik, perkembangan, dan semacamnya. Tiba-tiba seorang wanita berambut pajang lurus, dengan setelan blus putih dan rok hitam konservatif seperti umumnya seragam kantor datang menemuinya.
“Cindy?” Secercah rindu memecah suasana gundah memerhatikan berkas-berkas yang tiada habisnya, ditinggalkanlah berkas yang baru saja disusun. Mereka berpelukan, sekadar rindu sahabat.
“Kayaknya ada sesuatu nih?” Tanya Audy penasaran.
“Bos kamu mana?” intonasi bocah yang mencerminkan keunikan seorang Cindy di mata sahabatnya, ia masih sama dengan yang lalu. Karena suasana nan sibuk, jadi, Audy mengantarkan sahabatnya ke ruangan rahasia yang dibangun karena semata-mata hobi.
Dia lagi enggak on? Frans yang dari tadi memerhatikan kolom chat menunggu seseorang bernama virtual Eve Cloudya –sahabat cybernya. Audy memecah konsentrasi bosnya, membawa seorang klien yang tercantum pada proposal.
“Permisi Pak Frans, ada yang ingin bertemu dengan anda,” menarik sahabatnya ke depan Frans.
“Hmmm...” gaya analisa andalan si bos itu keluar, “Cindy? Benar?”
“Ya,” Cindy mengulurkan tangan seraya berjabat, “Salam kenal.”
Frans tahu ini bukanlah negeri dongeng, ternyata orang yang ia anggap klop itu benar-benar berada di depan, matanya memicingkan suasana harmonis seperti biasanya, tak ayal jika Frans mudah sekali menggaet konsumen-konsumen perusahaan hanya dengan sekali kibas dan tatapan. Mereka bertindak biasa saja.
“Silakan Cindy, ini bos aku, dia masih muda tapi kompetensinya jauh lebih profesional dibanding umur.” Puji Audy sebagai kalimat penghantar dan penutup, karena ia akan kembali bekerja.
Di sambut dengan tawa renyah si bos, “dia memang pintar memuji, sampai pujian ke seratus akan ku angkat dia jadi penasihat perusahaan,” gumam lelaki tersebut sambil mengambil seruputan ke sekian kalinya.
“Kamu ngopi atau ngeteh?” tawar Frans.
“Teh saja deh.”
Mereka berdua saling bertukar inspirasi, bagaimana uniknya disain Frans yang beraliran dekonstruktivisme, dan bagaimana kreatifnya disain Cindy dengan olahan warna sempurna sesuai dengan minat konsumen. Dengan kata lain, mereka mencoba menyatukan chemistry satu sama lain sebelum memulai proyek besar, begitulah aturan mainnya.
Tak habis-habisnya kalimat yang membanjiri Frans dengan beragam pembicaraan tentang model-model rumah dan properti yang sebagai tidak diketahuinya. Matanya tetap memerhatikan, bahkan telinga yang sedari tadi dijadikan alat pendengarannya tidak lagi terkoneksi, ayalan Frans jauh dari pada penglihatan, baru ia sadar, manusia berparas indah, hasil konstruksi tuhan yang maha kreatif di atas segalanya, benar-benar mengagumkan, dibanding gambar dengan guratan-guratan eksentrik dan impresif, dari pada kreasi-kreasi insinyur profesional, bahkan lebih indah dari model 4D sekalipun. Ia yang sangat indah, setidaknya begitu di mata pemegang perusahaan Frans Archy itu.
“Jadi menurut bapak seperti apa?”
Satu kata yang membuyarkan Frans dari perlintasan khayal yang berlalu lalang di otaknya, seakan-akan tindakan tadi itu sebagai penurun derajat sosialnya, ia kembali berlaku sang profesional.
“Sangat impresif sekali!” lanjutnya, “dan, saya ini masih muda, setidaknya kata panggil Frans saja jauh lebih baik dari pada bapak.”
“Anda jauh lebih eksentrik dari yang kuduga.” Perasaan apa sebenarnya ini?
“dan anda jauh lebih unik dari yang saya kira.” Balas Frans. Menyenangkan sekali.
Satu-dua lagu terlewat, mereka masih asyik merintis percakapan yang tak kenal lelah, mereka sudah seperti sahabat lama yang tak pernah muncul berabad-abad, sekali menampakkan batang leher, keduanya berusaha mengenang-ngenang apa yang telah dialami oleh diri mereka masing-masing. Sedikit jeda dari percakapan panjang dan beberapa kali adukan kopi orisinal Frans yang tak kunjung habis, ia melirik kembali ke Smartphone andalan, melihat lagi.
Dia sudah on? Kepalanya batal memilih, orang yang di depannya sedang asyik menikmati teh yang dipintanya, seketika pula Frans menatap lamat-lamat kedua bola mata dengan berpendarnya kilatan-kilatan kuning eksotis dari lampu-lampu bar, kehangatan yang bercampur dengan aroma khas bas kopi, lalu lalang pengunjung, dan kehadiran orang tak terduga.
“Siapa yang mengantarmu dari rumah ke tempat ini?”
“Kebetulan diantar oleh sopir pribadi orang tua,” jawabnya santai.
“Oh,” singkatnya, “pekerjaan kamu butuh beberapa jam hingga sore nanti, kebetulan aku juga punya mobil pribadi, mau diantarkan?”
Mendengar penawaran khusus dari rekan bisnis barunya, ia tampak sesekali tersipu, entah butuh berapa lama lagi ia akan menahan keanehan di ruangan ini. Pikirnya, kerjanya saja belum selesai sudah ditawarkan pulang bareng.
Ekspresi Frans yang sedang menunggu jawaban pasti Cindy, membuat rona pipinya tak terhentikan, tak ada kalimat-kalimat penjamah lain untuk menolak, jemarinya sudah terlanjut bergidik, mata yang terlihat cemas menunjukkan, ia salah tingkah. Ia mengangguk.

“Baiklah, sampai ketemu nanti sore, aku ke atas dulu.”

Previous Chapter
Next Chapter
2# Cluster of Marxent Serial:  Ini Sekedar Kebetulan
4# Cluster of Marxent Serial:  Butuh Komitmen
Written by Muhammad Iqbaludin

Ini Sekedar Kebetulan

Jakarta, 2010.
Pagi buta, waktu yang tepat untuk menghindari kemacetan kota metropolitan yang semakin lama semakin menjadi, ini disebabkan meningkatnya pemakai kendaraan pribadi secara bebas, dalam satu rumah bahkan memiliki setidaknya dua mobil dan satu motor, bila dijumlahkan dengan populasi masyarakat maka berapa yang akan berlalu lalang di tanah ibu kota. Setidaknya Frans memiliki satu buah mobil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosialnya.
Anak yang terlahir dari darah Indo-Belanda ini selalu penuh dengan mimpi-mimpi, sebagian mimpi masa kecilnya terbayar, sebagian lainnya masih dalam penantian. Frans anak tunggal dari seorang psikiater anak dan wanita karier, di mana memiliki sejarah hitam yang tak mengenakkan. Semenjak umur empat tahun, kedua orang tuanya mengirimnya ke Ferri –yang ia sebut opa tanpa ada alasan yang kompleks. Frans kecil hanya tahu bahwa ia diinapkan dan orang tuanya sibuk.
Menemui opa yang selama ini sebagai primadona bagi dirinya, orang tua itu gemar sekali mengoleksi kata-kata bijak orang-orang dahulu, bahkan obsesi akan cerita cinta yang diambil dari mitologi Yunani dan sangat tidak dipahami oleh Frans kecil. Setiap orang tua itu bercerita tentang kisah cinta dari yang tidak manusiawi, hingga yang sangat absurd jika direfleksikan dalam bentuk sebenarnya, seperti Hermafroditos dan Salmakis yang bersatu menjadi satu kesatuan organ, sehingga memiliki kelamin ganda maka keluarlah istilah hermaphrodite untuk merefleksikan seseorang berkelamin ganda. Beberapa kisahnya juga menceritakan perjuangan heroik sang tokoh dalam menemukan cinta sejatinya, di saat itulah ia berpikir betapa mudanya hasrat orang tua itu dalam perihal bercinta, namun Frans kecil menikmatinya.
Beberapa pertentangan atas masa lalunya, kisah yang krusial, dan bayang-bayang ibunya yang tiba-tiba menangis kemudian hilang keesokan harinya, kini menjadi bumerang positif bagi keahliannya. Kemampuan menggambar serta selera disain yang baik menciptakan seorang Frans sebagai Founder Frans Archy Corporation, sebuah korporasi yang bergerak dalam bidang konsultan jasa arsitektur, karyanya yang bermacam-macam telah berdiri di ranah internasional, bisa dibilang perusahaan yang sangat melesat dan menarik banyak pesaing-pesaing profesional.
Frans, seorang pria dengan tipikal menyenangkan, humoris, tak sedikit wanita melirik walau hanya mengharapkan hiburan semata. Dengan postur tubuh yang ideal, tidak terlalu pendek dan tinggi, membuatnya mudah bergerak ke sana kemari dengan gesit, tungkai yang keras tetapi tidak kaku, yang setiap harinya dilatih agar tidak kenal lelah ke mana pun ia pergi. Bersama Jonathan, seorang sahabat dari masa mereka bergelar anak-baru-gede hingga masa usia produktif dan memiliki karier berbeda, ia mendapat banyak pengalaman berharga dan juga waktu sempit untuk meregangkan badan secara intensif. Kesibukan selalu menjadi faktor pembatas keinginan tersebut.
“Pak Frans, kita memiliki problem serius,” seorang anggota divisi Human Resources bergegas menemui Frans di ruangannya, “Pak Hermantyo.”
“Ada apa dengannya? Bukankah sedang menjalani rawat inap?”
“Iya, tetapi pihak keluarganya baru saja menelepon,” suasana semakin canggung, Hermantyo bukanlah orang biasa di perusahaan tersebut, jabatannya yang sangat sakral membuat kemajuan perusahaan, ia seorang sekretaris kesayangan Frans. Masalah apa lagi ini?
“Dia baru saja meninggal pak.”
Tampak riak wajahnya yang mengeras, lantaran terkejut mendengar informasi dari Bram, seorang anggota divisi Human Resources yang menangani staf-staf dan anggota perusahaan serta perkembangan keahlian masing-masing, termasuk memantau staf yang mulai menurun kinerja di perusahaan. Sebuah jemari yang mulai mengeras dan mengepal, seakan maut orang itu menghina Frans dengan caranya sendiri, ia tahu masalah yang di dapat sangatlah menumpuk, sebagai seorang pemimpin perusahaan yang berbakat dan profesional, ia tidak ingin melihat hal satu itu sebagai penghalang kemajuannya. Kematian adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa di tangannya, untuk apa mereka yang ditinggalkan merasa sangat khawatir bahkan histeris seolah-olah semua manusia dilahirkan untuk menempuh keabadian, tumbuh kembangnya tidak terhitung, dalam masalah ini intuisinyalah yang dapat menyelamatkan struktur organisasi perusahaan.
“Kita usahakan untuk berkunjung ke rumah duka, setelah ini kita rapat.”
Brams melihat jiwa pemimpinnya mengalir dari mata yang menyatakan keyakinan atas ucapan yang baru saja terlontar, tanpa ada isyarat apa pun, Brams mengangguk mantap.
“Kita adakan reshuffle jabatan.”

Bandung, 2009.
Audy tidak sadar bahwa dirinya telah sangat nyaman menjalani mimpi-mimpi yang diproyeksikan oleh segumpal neuron di kepalanya dari aktivitas tubuh mungil rentan dengan keadaan lelah itu. Interview keduanya di sebuah perusahaan milik Frans, seharusnya mulai dari pukul sepuluh pagi, tetapi nyatanya wajah dengan kelopak mata nan elok itu terus berupaya menyamankan diri. Ia masih terlelap.
“Aduh, anak mamah satu ini, katanya mau ada interview terakhir, tapi masih tidur!” wanita paruh baya dengan setelan kebangsaan ibu-ibu pada umumnya, sebuah daster lusuh, tanda orang yang ia panggil ‘mamah’ tersebut baru saja bangun dari perihal yang sama, mengingatkan seorang buah hatinya yang berumur genap dua puluh satu tahun pada bulan ini.
“Hmpf.. Apa Mah, pagi-pagi sudah mengomel?”
“Bukan mengomel, katanya kamu ada interview terakhir, memang jam berapa mulainya?”
“Jam sep...”
Audy melirik jam weker yang telah lelah membangunkan seorang mayat hidup. Melihat jarum pendek di angka delapan, ia baru sadar, butuh berapa jam menuju Jakarta? Aduh, bisa-bisa interview gagal. Mamah, kenapa enggak membangunkanku dari tadi. Sesalnya.
Dengan amat cepat, dalam kurun waktu sepuluh menit, ia menyelesaikan segalanya, remeh-remeh bahan interview dan data-data yang diharuskan membawa, juga sertifikat-sertifikat berharga yang selama ini ia peroleh sebagai hasil jerih payah di perguruan tinggi. Karena dalih keterburuannya, ia terpaksa meninggalkan ritual keluarganya setiap pagi, dengan beberapa menu spesial sebagai penghantar keberuntungan Audy dalam hari pertamanya menginjakkan kaki di sebuah perusahaan besar.
“Ma, aku berangkat dulu ya, aku makannya di jalan,” orang tua yang memanggilnya pun sedikit kecewa, tapi tak apa. Semoga anak itu tidak muntah di jalan lagi, ibunya menggeleng.
Dengan blus merah yang cukup atraktif dengan rok yang menjenjang sampai lutut membuatnya selaras dengan kulit beningnya, rambut lurus bergelombang hingga punggung adalah gaya alaminya, ia tidak ingin menampilkan aksen mewah seperti wanita pada umumnya, ditambah sebuah kaca mata hitam yang menggantung tepat di depan mata, juga sepatu hak yang memungkinkannya terpeleset jika mengambil tindakan lari. Keluarlah mobil Jazz berwarna biru langit, sebuah kendaraan roda empat yang menjadi kunci keberhasilannya sampai atau tidak sampai di lokasi tertuju. Ia menancapkan kaki untuk melaju sekencang mungkin. Jangan sampai terlambat.
Jakarta, 2009.
Sebuah perjalanan yang begitu singkat, dengan menempuh jarak lebih dari seratus kilo meter, akhirnya ia sama sekali tidak tertinggal, melainkan ada celah sepuluh menit untuk berjalan cepat menuju ruang interview. Kini kedua kalinya ia memasuki sebuah gedung berlantai lima belas, dengan modernisasi struktur eksterior dan interior, sangat jernih sekali rasanya, karena gedung yang dilapisi sebuah reflective film glasses  ini memiliki gaya arsitekturnya sendiri, pada dasarnya kaca yang melapisi gedung berfungsi meningkatkan sun block pada siang terik, rangkaian baja yang masih terlihat melintang membentuk pilar-pilar yang indah. Ia berjalan menuju invisible lift dengan auto dynamic signed-door, nama yang aneh, tapi kepiawaian pintu lift inilah yang membuatnya begitu terpesona, karena dua dinding berbentuk setengah lingkaran sebagai batas, apabila seseorang ingin memasukinya maka dua dinding ini berputar tepat di mana si orang itu berada dan membentuk celah sebagai pintu, pada dasarnya itu tidak memiliki pintu. Sekali jalan ia dapat melihat ruang-ruang yang multidimensional, terlihat seperti labirin tunggal yang berputar-putar, cocok sekali, dengan posisi di tengah ia mendapat kesan estetik sendiri.
Sekitar lima menit untuk mencapai ruang paling atas, entah apa yang dipikirkan orang-orang di perusahaan ini sehingga menentukan sebuah interview hampir dekat dengan atap, ia menemukannya. Sebuah ruangan dengan disain yang aneh, sebuah pintu kaca berbentuk seperti telur 2D, ketika melangkah dan melirik tepat di bawah, terasa seperti melayang, karena benar-benar invisible, yang membuatnya risih adalah posisi berpakaiannya, ia menyangka bahwa orang-orang di bawahnya dapat melihat ke langit-langit, padahal, orang-orang di bawah itu hanya melihat sebuah kaca berwarna hitam legam, sama seperti kaca mobil.
Kepanikan yang ia rasakan ternyata dapat dilihat oleh seorang pemuda di depannya ini, “Frans, cukup panggil seperti itu, dan, tenang saja, orang-orang di bawah itu tidak akan dapat melihat ke atas, karena pada dasarnya konsepnya seperti kaca mobil, kamu enggak akan bisa melihat ke dalam kan?” Audy yang sudah tersipu dari tadi terpaksa mengangkat bibirnya dan berlagak biasa saja, “kecuali dari mereka ada yang memakai teropong tembus pandang,” dilanjutkannya dengan sebuah tawa renyah.
“Akan kupecat orang itu! Yah, sudahlah.” Menghempaskan badannya ke sebuah kursi wol empuk. Melihat gelagat orang di depannya dan perkataannya tadi, wajahnya memasang tanda tanya besar.
“Baiklah, maaf atas hal tadi, saya berusaha membuatnya tidak terlalu tegang, anda sudah siap?”
“Ya.” Jawaban yang terlalu simpel untuk sebuah interview.
“Umur?”
“21 tahun, beranjak ke 22 bulan ini.”
“21, hmmm,” tampak berpikir, “bagus! Aku butuh orang-orang muda yang energic and talented untuk sebuah perusahaan muda ini, jadi apa motivasimu hingga terlihat niat sekali untuk bisa bekerja di sini?” Melihat wajahnya yang mulai tidak kaku, namun, dingin.
“Sudah lama saya tertarik dengan arsitektur, kebetulan saya juga lulusan ITB jurusan yang sama, begitulah. Motivasi, kalau yang satu itu, pastinya karena keluarga dan cita-cita.”
“Boleh tahu cita-citanya?”
“Penulis paruh waktu...”
“Penulis?” Frans mulai bangkit dari hempasan di kursinya, mendengar penyataan unik ini, “mengapa bisa sampai di sini? Padahal menjadi penulis bisa home working?”
“Karena itu saya sadar, manusia diciptakan untuk saling berbagi dan melengkapi, dengan begitu saya butuh pekerjaan yang dapat melengkapi kebutuhan saya pribadi, jelas, dan tersistim.” Elaknya.
Setelah beberapa pertanyaan yang ‘tidak begitu penting’ dan sekedar mengetahui kepribadiannya, Frans memulai interview secara serius dan berwawasan. Manusia kaca mata itu membuat Frans geger, ia bisa menjawab semuanya. Pria berjas dan memakai kemeja biru bergaris vertikal biru gelap tanpa dasi dengan kerah yang tak dikancing itu telah menentukan di mana jabatan yang sesuai untuknya. Anak ini memang babakan dan gesit, sekretaris, ya itu dia.
Ajang komprehensif yang singkat, Frans selaku Founder Perusahaan dan pemilik sah telah membulatkan keputusannya untuk menjadikan Audy seorang wakil sekretaris utama, karena melihat kesibukan Pak Hermantyo akhir-akhir ini dan membutuhkan seorang yang gesit juga dapat mengalokasikan tugasnya sebagai sekretaris.
“Pengumumannya akan segera saya kirim ke e-mail anda, terima kasih untuk hari ini.” Setelah sekian lama, ia memanggil rekan office boy  demi menetralkan dehidrasi setelah banyak berbicara selama 30 menit berangsur-angsur.
“Mendengar beberapa pernyataan yang telah anda ungkap tadi, saya menjadi ingat masa lalu saya,” matanya berangsur-angsur terbang jauh. Audy mulai terheran dengan orang yang belum sama sekali memperkenalkan diri pada awal pertemuan hingga kini, tiba-tiba menginterogasi, dan, spontan malah mencurahkan cerita personal masa lalunya. siapa sih nih orang?
“Saya terlalu terobsesi dengan sesuatu yang, yah, mestinya memang tak usah diobsesikan. Seperti kisah cinta Yunani kuno, kamu tahu?”
“Ya, sedikit.” Singkatnya.
Setibanya office boy yang dimintanya membawakan teh hangat tadi, ia mempersilakan Audy untuk santai sebentar, karena ia tahu setelah ini tidak ada lagi pelamar untuk di-interview.
Basa-basi yang benar-benar membuat mood Audy untuk mengetahui siapa identitas orang ini, walaupun tidak seberapa, tapi orang ini pastilah termasuk orang besar di perusahaan, namun ia sangat berbeda dari orang-orang yang menginterogasinya pada first interview, seorang bapak-bapak kira-kira 35-40 tahunan yang sudah memiliki anak, matanya tajam dan terkonsentrasi, tidak melantur ke mana-mana, dan membuatnya begitu kaku, begitulah gambaran pertamanya, ia kira akan lebih ekstrem lagi pada the second interview. Perbincangannya selesai.
“Terima kasih untuk hari ini.” Ini ucapannya yang kedua, sambil mengulurkan tangannya seraya memberi secarik kertas nama. Sebagaimana kepribadian Audy yang sangat gengsi, ia menyimpan kartu nama itu untuk dilihat nanti. Mereka berjabat tangan kemudian keluar.
Suasana yang sama, akhirnya ia dapat kembali ke rumah, namun, karena kesempatannya di Jakarta ia ingin bertemu seorang sahabat masa kecilnya.
Tempat mobilnya terparkir lumayan jauh dari pintu keluar, ketika hendak mengambil kunci mobilnya ia melihat secarik kertas yang ia niatkan untuk dilihat nanti. Ia melihatnya, dan tercengang. Pantas saja!
Akhirnya mobil Jazz biru langit itu melesat meninggalkan sebuah interview asyik yang membuat hatinya begitu, terkesan, ini pertama kalinya ia jatuh oleh perasaannya sendiri. Frans Aditya, 24 tahun, akan kuingat. Perlahan-lahan, gedung-gedung pencakar langit itu semakin mengecil dari pandangannya, semakin ia teringat bahwa kehidupan itu pada akhirnya setiap orang yang merasa dirinya besar pada akhirnya ia akan mengecil dan berada di mana orang-orang terinjak. Kembalilah ia ke tanah. Maka sebelum ia mengecil, minimal ia melakukan hal yang terbaik dan bermanfaat untuk orang lain.
Frans Archy Corporation, Jakarta, 2009.
“Mas Cokro, ini hasil interview dari ketiga pelamar tadi, saya sudah memprosesnya, tolong hitung dan informasikan secepatnya ya.”
Orang-orang yang berkecamuk di ruangan yang pengap oleh data-data rekan kerjanya, sebuah divisi yang mengolah ketenagakerjaan dan sumber daya manusia di perusahaan, sibuk mencocokkan data dan mengakumulasi nilai-nilai interview sesuai prosedur, di luar itu, Frans sudah memiliki data tersendiri yang kebetulan akan dicocokkan langsung dan ia kabarkan langsung ke masing-masing pelamar. Ternyata semakin ke sini semakin berkembang ya, sambil melihat data pribadinya.
 “Permisi pak, ini datanya.” Sambil menyerahkan tumpukan kertas yang tersusun rapi dalam sebuah amplop kelabu. “Terima kasih mas.” Segera melihat berkas yang diberinya, orang itu melangkahkan kakinya keluar.
“Sebentar pak,” Frans menghentikan langkahnya, “saya kan sudah bilang, tidak usah pakai ‘pak’, cukup Frans saja, lagian saya ini belum bapak-bapak.”
“Iya p-pa... Frans,” kikuk meralat ucapannya.
“Frans...” memperjelas, “hahaha, tidak usah dipaksakan, terima kasih untuk berkasnya mas.”
Mengangguk, pergi. Memang anak muda berbakat, dan sederhana, bos yang hebat.
Frans menemukan kecocokan pada datanya, sesuai dengan yang telah ia beritakan dalam ajang tanya-jawab komprehensif, segera melihat profil masing-masing dan mengirimkan congratulation greetings beserta informasi jabatan yang dipegang sesuai dengan level pendataan prosedur.
[e-mail to: Audy Ananditha]
Dear Audy Ananditha,

Frans Archy Corporation would like to say congratulation for the success of your interview research. Welcome to our company, we hope you will run well and the target will always be reached.

As I inform at the very interview process, I will give the concrete notification about your structure position in our company. We’ve decided you in Vice Main Secretary. We really excited to corporate with you. More Information We would like to inform in another time immediately.

We hope we can establish a good corporation with you.

Yours Sincerely,
Frans

Selesai sudah tugasnya. Ia tinggal bersantai sejenak, selagi tidak ada aktivitas berat. Laptop yang sedari tadi dipakai untuk mengirim data ini-itu, akhirnya dipakai untuk bersantai sejenak.

Frans Archy Corporation, Jakarta, 2010
“Dengan demikian, sesuai dengan hasil diskusi yang kita dapatkan, struktur baru yang tak terlalu banyak perubahan dalam pola dasar.” Frans menyebutkan satu per satu strukturnya dari tingkat terbawah hingga teratas.
“Ricky dalam posisi Vice Main Secretary...”
Belum selesai disebutkan, Audy sontak terkejut. Apa yang salah denganku? Walaupun ada sedikit kekhawatiran, ia berusaha menyembunyikannya, tak lama setelah itu. Malah tercengang.
“Audy Ananditha sebagai Main Secretary, pengganti Almarhum Bapak Hermantyo.”
Akhirnya pertemuan mereka berakhir, mereka saling menunjukkan senyum satu sama lain, pertanda bahwa tidak ada dendam bagi yang turun atau pun yang naik, sebab orang itu selain menjadi CEO juga menjadi seorang motivator disukai banyak bawahannya, ia selalu berkata bahwa jabatan bukanlah sebuah acuan utama, ini hanya sebuah apresiasi atas apa yang didapat, maka berusahalah untuk saling berlomba dalam kebaikan.
Sesosok pria muda sederhana, seseorang yang selama ini menjadi bahan perhatian khususnya bagi dirinya, tangan yang keras dan gagah, menjabat tangan mungil yang halus itu. Secara sederhana itu dinamakan sebuah ‘jabatan tangan’ namun ia memiliki perspektif yang lain.
“Selamat ya, Mrs. Secretary, semoga bisa bekerja sama lebih baik lagi,” meluncurkan senyuman yang meronakan kedua pipinya.
“Iya, terima kasih. Lagian yang ini sekedar kebetulan, saya juga enggak bisa menyangka.” Singkat, ia tak tahu bagaimana cara berekspresi selain mengungkapkan kata tersebut.
“Enggak ada yang namanya kebetulan, inilah hasil kerja kerasmu.”
“Pak ada berkas proposal dari seorang klien.” Sela seorang karyawan.
“Oh, mana?” Mengambil dan menyerahkan kepada Audy, “tugas baru untuk jabatan baru.”

Written by. Muhammad Iqbaludin
Original Writing Idea | ©Marxent Serial Story


Previous Chapter
Next Chapter
1# Cluster of Marxent Serial:  The Best Corner
3# Cluster of Marxent Serial:  Lebih Indah dari Model 4D Sekalipun



Written by Muhammad Iqbaludin
Newer Posts Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

Amanda Joe

Them moveth and second. Moved, created every beginning his good. Creature fifth land kind won’t divided brought,

Category

  • Casual Short Story
  • Design
  • Gallery
  • How to write
  • Inspirative Story
  • Lucrative Conversation
  • Marxent Serial
  • Personal Note
  • Soft Article
  • Text Compilation

LATEST POSTS

  • Short Story: Sederhana...
  • Short Story: Di Balik Kenyataan
  • Personal Gallery: Special Khutbatul 'Arsy 2015
Powered by Blogger.
  • My Story
  • Gallery
  • Archive
  • Blog
  • About
  • Contact

Contact Us

Name

Email *

Message *

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2015 Marxent. Designed By OddThemes & My Blogger Themes